AKSIOMATIK ANTARA MATEMATIKA DAN MATEMATIKA SEKOLAH
AKSIOMATIK
ANTARA MATEMATIKA DAN MATEMATIKA SEKOLAH
Tiara
Cendekiawaty1, Marsigit2
Pendidikan Matematika Universitas Negeri
Yogyakarta1, 2
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Aku adalah aku.
Aku adalah pikiranku. Sehingga filsafat adalah aku, filsafat adalah pikiranku.
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya dan
seluas-luasnya dengan tanpa dipenggal-penggal menggunakan pikiran atau rasio.
Filsafat juga merupakan pandangan hidup bagi seseorang atau sekelompok orang
yang dijadikan konsep dasar kehidupannya agar dapat menggapai apa yang
dicita-citakan. Pada dasarnya setiap orang dalam hidupnya pasti berfilsafat.
Berfilsafat dapat dimulai dengan pertanyaan “mengapa”. Mengapa merupakan
lambang dari usaha untuk mencari tahu sebab akan suatu hal. Untuk menggapai kata
mengapa juga seseorang pasti memikirkan akibat akan suatu hal yang terjadi.
Cabang dari filsafat sangatlah banyak. Salah satunya adalah filsafat ilmu. Menurut
Michael V Berry, filsafat ilmu adalah penelaahan tentang logika
intern dan teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori,
yakni tentang metode ilmiah. Jadi, filsafat ilmu adalah cabang
filsafat yang mengkaji secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu.
Dasar-dasar
ilmu yang dikaji meliputi salah satunya adalah matematika dan pendidikan matematika.
Ketika mengkaji matematika maka lahirlah filsafat matematika. Begitu pula
ketika mengkaji pendidikan matematika maka lahirlah filsafat pendidikan
matematika. Filsafat matematika adalah cabang filsafat yang bertujuan untuk
merenungkan dan menjelaskan sifat dari matematika. Sedangkan filsafat
pendidikan matematika adalah cabang filsafat yang mencakup tiga hal yaitu tujuan
dan nilai pendidikan matematika, teori belajar, teori mengajar. Dari pengertian
terlihat jelas bahwa secara filsafat, matematika dan pendidikan matematika
tidaklah sama.
Apabila dilogikakan
matematika akan lebih mengarah kepada matematika murni yang cocok dipelajari
atau diajarkan untuk orang dewasa. Sedangkan pendidikan matematika lebih
mengarah kepada matematika sekolah atau matematika yang diajarkan di sekolah
untuk anak-anak. Pendidikan matematika tidak hanya terkait dengan materi dari
matematika itu sendiri tetapi juga terkait dengan psikologi yang diajarkan.
Tetapi sejauh ini ketika guru mengajarkan matematika kepada siswa itu seperti
mengarah kepada matematika murni bukan matematika sekolah. Hal ini terlihat
dari ketika guru memberikan definisi, aksioma ataupun teorema seperti
mengajarkan kepada orang dewasa bukan kepada anak-anak. Artinya guru hanya
memperhatikan aspek matematikanya saja tanpa memperhatikan aspek psikologi
siswa. Hal ini tentunya sangat berpengaruh kepada siswa. Pemberian definisi
melalui simbol verbal dan simbol visual akan sangat menyulitkan siswa dalam
memahami konsep matematika yang diajarkan karena proses berpikir anak-anak
dengan orang dewasa tentunya sangat berbeda. Memang benar anak-anak dan orang
dewasa dalam belajarnya memunculkan intuisi tetapi konteks dan tingkat
kekompleksannya sudah berbeda. Hal ini kembali mengacu pada filsafat yaitu
harus sesuai dengan ruang dan waktu. Anak-anak akan lebih memahami suatu konsep
apabila mereka didekatkan dengan kehidupan sehari-harinya karena anak-anak
belajar melalui pengalaman belajar yang didapatkannya. Anak-anak akan lebih
mudah dalam mengkonstruk konsep matematikanya sendiri apabila anak-anak dapat
melakukan abstraksi dengan diberikan contoh dan bukan contoh yang bervariasi.
Maka dari itu, terlihat jelas bahwa matematika dan matematika sekolah merupakan
dua hal yang berkaitan tetapi berbeda. Dalam mengajar, guru tentu harus melihat
siapa yang diajarnya sehingga agar konsep-konsep yang diajarkan dapat dipahami.
II.
PEMBAHASAN
2.1 Filsafat
Ilmu
Menurut Michael V Berry, filsafat ilmu adalah penelaahan tentang logika intern
dan teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni
tentang metode ilmiah. Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran terhadap
persoalan yang berkaitan dengan ilmu. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu
pengetahuan itu sendiri. Seiring berjalannya waktu, ilmu pengetahuan akan
semakin berkembang. Pengetahuan lama nantinya akan menjadi landasan atau dasar
untuk mencari atau mengembangkan pengetahuan baru. Menurut John Losee filsafat
ilmu bermanfaat untuk menjawab pertanyaan yang meliputi:
1. Karakteristik
apa yang membedakan penyelidikan ilmiah dari jenis lain dari penyelidikan?
2. Prosedur
apa yang harus ilmuwan ikuti dalam menyelidiki alam?
3. Kondisi
apa yang harus dipenuhi untuk penjelasan ilmiah untuk menjadi benar?
4. Apa
kognitif status hukum ilmiah dan prinsip-prinsip?
2.2 Matematika
Matematika
adalah cara atau metode berpikir dan bernalar. Matematika merupakan metode
berpikir yang digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan dan membuat
keputusan benar tidaknya sesuatu. Menurut Suyitno (2010) matematika memiliki
ciri: (1) objek yang dikaji abstrak, (2) mendasarkan diri pada kesepakatan-kesepakatan,
(3) sepenuhnya menggunakan pola pikir deduktif, dan (4) matematika dijiwai
dengan kebenaran konsisten yaitu kebenaran yang didahului oleh kebenaran-kebenaran
sebelumnya. Jika konsisten dengan ciri matematika ini, maka matematika sekolah
juga harus disusun dengan mencerminkan ciri-ciri tersebut.
Ada beberapa
hakekat dari matematika, diantaranya yaitu (1) matematika sebagai sarana
berpikir deduktif, (2) matematika bersifat terstruktur, (3) matematika sebagai
ratu dan pelayan ilmu, (4) matematika sebagai bahasa, dan (5) matematika
bersifat kuantitatif. Adapun karakteristik dari matematika, yaitu (1) memiliki
objek yang abstrak, (2) bertumpu pada kesepakatan, (3) berpola pikir deduktif,
(4) memiliki simbol yang kosong dari arti, (5) memperhatikan semesta berpikir,
dan (6) konsisten dalam sistemnya.
Dalam matematika
penggunaan imajinasi, intuisi, dan penalaran untuk memperoleh ide-ide baru dan
untuk memecahkan persoalan-persoalan yang problematik. Dalam konteks ini,
matematika mengacu kepada matematika murni. Ketika berbicara tentang matematika
murni maka akan mengarah kepada proses berpikir abstrak dimana lebih cocok
diajarkan atau dipelajari oleh orang dewasa.
2.3 Matematika
Sekolah
Matematika
sekolah tentunya berbeda dengan matematika. Matematika sekolah adalah
matematika yang diajarkan di sekolah. Ketika berbicara mengenai sekolah maka
akan mengacu kepada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Matematika di sekolah tentu saja mengajarkan tentang materi/konsep dari
matematika itu sendiri tetapi tidak semua materi diajarkan di sekolah. Ada
pertimbangan yang menjadi hal pokok tentang mengapa tidak semua materi
matematika diajarkan di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah yaitu
karena siswa di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah termasuk
anak-anak. Proses berpikir anak-anak tidaklah sama dengan orang dewasa. Memang
siswa di jenjang pendidikan menengah sedang pada masa trasisi dimana proses
berpikirnya sudah mulai berubah dari berpikir konkret ke berpikir abstrak. Guru
tidak bisa memaksakan siswa untuk sepenuhnya berpikir abstrak. Adapun beberapa
pertimbangan lain yang dikemukakan oleh Suyitno (2010), diantaranya yaitu:
1. Disesuaikan
dengan materi pelajaran matematika yang diajarkan di sekolah-sekolah di luar
negeri, khususnya di negara maju.
2. Materi
matematika tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kemampuan-kemampuan para
siswa.
3. Dengan
mempelajari materi matematika tersebut diharapkan dapat membentuk pribadi
siswa.
4. Materi
matematika dipilih yang dapat membawa siswa untuk mampu mengikuti perkembangan
iptek.
Tidak berbeda
dengan matematika, matematika sekolah juga mengenal objek matematika. Objek
matematika berupa objek langsung dan objek tidak langsung. Objek langsung
meliputi fakta, konsep, prinsip, dan skill. Sedangkan objek tidak langsung
meliputi (1) kemampuan untuk melakukan bukti teorema (theorem proving), (2)
kemampuan dalam memecahkan masalah (problem solving), (3) kemampuan untuk
menularkan cara belajar matematika yang dapat ditranfer ke pelajaran yang lain
(transfer of learning), (4) kemampuan untuk mengembangkan intelektual melalui
belajar matematika (intellectual development), (5) kemampuan untuk bekerja
secara individu (working individually), (6) kemampuan untuk bekerja dalam kelompok
(working in group), dan (7) memiliki sikap positif (positive attitudes).
Matematika
sekolah merupakan bagian dari matematika. karena matemarika sekolah menjadi
dasar bagi matematika. Apabila dilogikakan hal ini seperti anak-anak merupakan
awalan/fase yang dilalui seseorang untuk menjadi dewasa. Maka dari itu, untuk
dapat memunculkan objek matematika dalam matematika sekolah kepada siswa maka
guru tidak bisa menyamakan dengan memunculkan objek matematika dalam
matematika. Pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah apabila guru
dalam mengajarkan matematika kepada siswa lebih mendekatkan kepada kehidupan
sehari-hari siswa dan menyelami proses berpikir siswa. Strategi pembelajaranpun
tak kalah pentingnya dan sangat perlu diperhatikan.
Sebagai contoh
dalam matematika sekolah, ketika ingin mengajarkan konsep segitiga kepada siswa
pada jenjang pendidikan dasar dan menengah guru tidak bisa langsung memberikan
definisi segitiga sekalipun dalam bentuk simbol verbal dan simbol visual. Hal
ini akan menyebabkan siswa kesulitan dalam memahami makna sebenarnya dari
segitiga. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dnegan memberikan
definisi secara tidak langsung. Artinya guru memfasilitasi siswa dengan
memberikan berbagai macam contoh dan bukan contoh dan bagaimana awal mula rumus
dari luas segitiga. Dengan begitu siswa akan mengabstraksikan
informasi-informasi yang diberikan guru sehingga siswa nantinya akan dapat
mengkonstruk konsep dari segitiga dengan sendiri. Hal ini tentu akan lebih
bermakna daripada hanya sekedar memberikan definisi segitiga dalam bentuk
simbol verbal saja.
III.
KESIMPULAN
Secara
filsafat, matematika dan matematika sekolah tidaklah. Matematika lebih
menitikberatkan kepada matematika murni yang lebih cocok diajarkan kepada orang
dewasa. Sedangkan pendidikan matematika lebih kepada matematika sekolah dimana
materi-materi matematika murni tidak semuanya diajarkan kepada siswa. Artinya
materi yang diajarkan disesuaikan dengan kebutuhan dan psikologi siswa. Ketika
belajar matematika, anak-anak menggunakan intuisinya. Matematika dan pendidikan
matematika seperti melebur menjadi satu sehingga tidak terlihat perbedaannya.
IV.
REFERENSI
Suyitno, A. 2010. Sistem deduktif aksiomatis dalam matematika dan matematika sekolah.
Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 1 No. 9 Tahun 2010.
Huri,
A. Z. Filsafat Ilmu. (Online) https://www.academia.edu/31940282/FILSAFAT_ILMU
diakses pada tanggal 31 Januari 2018
Riztu,
T. Sejarah dan Filsafat Matematika. (online)
https://www.academia.edu/5448079/SEJARAH_DAN_FILSAFAT_MATEMATIKA
diakses pada tanggal 31 Januari 2018
Nursanto,
B. Makalah Tujuan dan Manfaat Filsafat
Ilmu Pengetahuan Bagi Kehidupan Manusia. (Online) https://www.academia.edu/33214932/MAKALAH_TUJUAN_DAN_MANFAAT_FILSAFAT_ILMU_PENGETAHUAN_BAGI_KEHIDUPAN_MANUSIA
diakses pada tanggal 31 Januari 2018
Comments
Post a Comment